Selasa, 16 Mei 2023

KONEKSI ANTAR MATERI 3.2

1.      Kesimpulan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan pengimplementasiannya di dalam kelas sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.

Sekolah sebagai ekosistem artinya adalah sebuah bentuk interaksi antara faktor biotik

(unsur yang hidup) dan abiotik (unsur yang tidak hidup). Kedua unsur ini saling

berinteraksi satu sama lainnya sehingga mampu menciptakan hubungan yang selaras dan

harmonis. Faktor-faktor biotik yang ada dalam ekosistem sekolah di antaranya adalah:

Murid, Kepala Sekolah, Guru, Staf/Tenaga Kependidikan, Pengawas Sekolah, Orang Tua,

Masyarakat sekitar sekolah, Dinas terkait dan Pemerintah Daerah. Adapun faktor-faktor

abiotik yang juga berperan aktif dalam menunjang keberhasilan proses pembelajaran diantaranya adalah: Keuangan, Sarana dan prasarana dan Lingkungan alam.   Pendekatan berbasis kekurangan/masalah (deficit-based approach) akan memusatkan perhatian

kita pada apa yang mengganggu, apa yang kurang, dan apa yang tidak berfungsi dengan baik.

Pendekatan berbasis aset (asset-based approach) adalah cara praktis menemukenali hal-hal

yang positif dalam kehidupan. Dengan menggunakan kekuatan sebagai tumpuan berpikir, kita

diajak untuk memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi,





yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif.

Ada Tujuh aset utama yang dimiliki lingkungan sekolah yaitu modal manusia, modal sosial,

modal fisik (bangunan, infrastruktur/sarana prasarana), modal lingkungan/alam, modal

financial, modal politik dan modal agama dan budaya

Pengimplementasiannya :

Di kelas

Saya akan memaksimalkan pengelollan dan pemanfaatan aset secara maksimal. Contoh saya akan menggunakan lahan tidur sebagai sumber belajar anak-anak ungtuk bercocok tanam

Di Sekolah

Saya akan berkolaborasi dengan rekan guru dalam menemukenali aset yang ada di sekolah, kemudian kami juga akan mengajak kepla sekolah serta pengawas untuk menggunakan aset-aset yang ada secara maksimal

Di Masyarakat

Saya akan berkolaborasi dengan masyarakat sekitar agar mendukung terciptanya ekosistem sekolah yang lebih berpihak pada murid

 

2.    Hubungan pengelolaan sumber daya yang tepat akan membantu proses pembelajaran murid menjadi lebih berkualitas.

 

Modal Manusia

Ketika pengelolaan sumber daya manusia dalam hal ini guru-guru, dilakukan dengan cara yang tepat maka akan sangat berdampak pada hasil belajar murid-murid. Contohnya guru yang kompeten akan menghasilkan peserta didik yang kompeten pula

Modal Fisik

Ketika sebuah sekolah memiliki bangunan sekolah yang lengkap dan sarana serta prasarana yang menunjuang, maka kebutruhan/proses belajar anak-anak akan sangat terdukung sehingga pembelajaran yang didapat lebih berkualitas. Contohnya sekolah yang memiliki ruang perpustakaan akan dapat dijadikan tempat untuk membaca bagi anak-anak

Modal Sosial

Ketika sebuah sekolah memiliki organisasi atau perserikatan yang mendukung murid untuk belajar, maka akan menambah keterampilan sosial murid dalam berperilaku. Contohnya pramuka, Osis dll

Modal Lingkungan Alam

Ketika pengelolaan sumber daya lingkungan alam dikelola dengan baik maka akan memudahkan siswa dalam memperkaya sumber belajar yang ada. Contohnya anak dapat belajar pada lingkungan perkebunan

Modal Agama & Budaya

Ketika pengelolaan sumber daya agama dan Budaya dilakukan dengan baik, maka pengaruh terhadap proses pembelajaran anak, akan dapat meningkatkan iman dan taqwa serta akhlak mulia dari anak-anak tersebut. Contohnya dengan merayakan hari-hari besar keagamaan

Modal Politik

Ketika pengelolaan sumber daya politik dikelola dengan baik, maka akan berpengaruh terhadap kesejahteraan peserta didik, tentunya modal politik ini juga berhubungan dengan relasi dengan pihak-piohak tertentu

Modal Finansial

Ketika pengelolaan sumber daya finansial terkelola dengan baik, maka akan dapat memberikan masukan kepada sekolah yang kemudian sekolah dapat memfasilitasi kebutuhan murid terutama dalam hal belajar

 

3.      Koneksi Modul 3.2 dengan modul-modul lain

 

Modul 3.2 dengan modul 1.1 (Filosofi Pendidikan menurut KHD)

Kaitan modul 3.2 dengan modul 1.1 dapat dilihat dari tujuan pendidikan menurut KHD yaitu menghantarkan anak pada keselamatan dan kebahagian. . Hal ini sangat sejalan dengan konsep yang ada pada modul 3.2 yakni peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Karena seorang pemimpin dapat dikatakan berhasil apabila dapat membawa ekosistem sekolahnya menuju arah perubahan yang dapat menghantarkan murid mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Selain itu menurut KHD anak-anak akan berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya, hal ini berkaitan dengan modal lingkungan alam yang turut mempengaruhi tumbuh kembang anak tersebut.

 

Modul 3.2 dengan modul 1.2 (Nilai & Peran Guru Penggerak)

Salah satu nilai dari guru penggerak yaitu berpihak pada murid. Berpihak pada murid berarti, guru dalam melakukan pembelajaran harus berorientasi pada murid, desain atau rancangan pembelajaran diharapkan sesuai dengan kebutuhan murid. Agar sekolah memiliki guru seperti yang dimaksud, maka sangat penting peran pemimoin dalam pengelolaaan sumber daya khusunya pada modal manusia. Ketika pengelolaan sumber daya pada modal manusia dalam hal ini guru-guru, dilakukan dengan cara yang tepat maka akan sangat berdampak pada hasil belajar murid-murid. Contohnya guru yang kompeten akan menghasilkan peserta didik yang kompeten pula

Modul 3.2 dengan modul 1.3 (Visi Guru Penggerak)

Visi merupakan impian/harapan terhadap sesuatu. Sebagai guru penggerak visi yang dibuat harus dapat melahirkan prakarsa perubahan yang berpihak pada murid. Dalam modul 3.2 dijelaskan bahwa ada 7 modal utama yang dimiliki oleh sekolah. Dimana jika modal aset) yang ada tersebut dijaga dan dimanfaatkan dengan baik, maka hal tersebut dapat membantu sekolah untuk mewujudkan visi yang telah ditetapkan oleh sekolah tersebut. Sehingga di sini bukan hanya perlu peran dari kepala sekolah, melainkan seluruh warga sekolah harus memanfaatkan aset yang ada sebaik-baiknya agar dapat mencapai visi tersebut

Modul 3.2 dengan modul 1.4 (Disiplin Positif)

Budaya positif adalah kumpulan nilai-nilai kebajikan yang disetujui secara bersama untuk dijadikan sebagai sebuah pedoman untuk bertingkah laku. Ketika sekolah sudah memiliki suatu pedoman untuk dijadikan landasan bertingkahlaku maka sekolah tersbut nantinya akan dapat bergerak ke arah yang lebih baik lagi, tentunya dengan peran kepla sekolah dan kolaborasi dengan guru-guru yang ada. Kepala sekolah dapat berperan sebagai pemimpin tentunya dalam pengelolaan sumber daya. Budaya positif yang ada dapat juga dijadikan sebgai aset atau kelebihan yang dimiliki suatu sekolah.

Modul 3.2 dengan modul 2.1 (Pembelajaran Berdiferensiasi)

Pembelajaran Berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan murid yang terdiri dari kesiapan belajar (Readiness), minat dan profil belajar murid. Jika dikaitkan dengan modu,l 3.2, Pembelajaran Berdiferensiasi dapat menggunakan modal yanga ada pada suatu sekolah. Jika dikaitkan dengan 7 modal utama, yaitu fokus pada modal lingkungan alam, sudah sepatutnya lingkungan yang menjadi aset dapat juga dijadikan sumber belajar sebgai pemenuhan kebutuhan belajar murid

Modul 3.2 dengan modul 2.2 (Pembelajaran Sosial Emosional)

Pembelajaran Sosial Emosional merupakan hal yang tak kalah penting untuk diterapkan. Seorang pemimpin yang dapat mengotrol sosial emosionalnya maka akan dapat mengelola sumber daya dengan baik pula.

Modul 3.2 dengan modul 2.3 (Coaching untuk Supervisi Akademik)

Melalui kegiatan coaching diharapkan coachee dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya. Jika seorang pemimpin dapat melakukan coaching untuk menemukan aset atau modal di sebuah sekolahnya maka pemimpin tersebut dapat dikatakan sudah mampu dalam mengelola sumber daya

 

 

Modul 3.2 dengan modul 3.1 (Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin)

Untuk menentukan sebuah keputusan maka diperlukan pembuktian melalui beberapa uji, terlebih jika kasus tersebut merupakan dilema etika. Seorang pemimpin yang dapat mengelola sumber daya maka seharusnya dapat memilih sebiuah keputusan berdasrakn pengujian tersebut agarr pada akhirnya keputusan yang diambil merupakan keputusan yang tepat. Contohnya untuk mengembangkan aset apa yang akan dikembangkan lebih baik lagi dan hal apa yang akan dilakukan

 

4.      Hubungan antara sebelum dan sesudah mengikuti modul ini, serta pemikiran yang sudah berubah setelah mengikuti proses pembelajaran dalam modul ini.

Sebelum
Sebelum mempelajari modul ini, saya lebih cenderung menggunakan pendekatan berbasis kekurangan ataupun masalah. Sehingga sering sekali saya pada akhirnya enggan untuk melakukan sesuatu karena saya mengira tidak ada hal yang mendukung saya untuk melakukan sesuatu tersebut.


Sesudah
Sesudah mempelajari modul ini paradigma berfikir saya berubah menjadi pendekatan berbasis kekuatan dengan meilihat segala sisi positif yang ada. Saya setuju dengan semua konsep dalam pendekatan berbasis aset, seharusnya kita dapat menyadari kekuatan apa yang ada pada sekolah kita ataupun diri kita sendiri. Agar pada akhirnya kita dapat melihat segala sesuatu berdasarkan kekuatannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Sabtu, 15 April 2023

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

(PENGAMBILAN KEPTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN)

 

1.      Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka dan  kaitannya dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, seyogianya guru harus memiliki sifat kritis dalam menghadapi sebuah masalah dan mengambil keputusan, agar keputusan yang diambil dapat dipertanggung jawabkan, sesuai dengan nilai-nila kebijkan dan berpihak pada murid. Jika dikaitkan dengan Pratap Triloka KHD, yaitu “Ingrso Sungthulada Ingmadya mangun karsa tutwuri Handayani, maka penerapan pengambilan keputusan ini sangat erat kaitannya.

Ing Ngarso Sung Tulodo, artinya menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan. Jika dikaitkan dengan pengambilan keputusan, maka sebagai seorang pemimpin hendaknya dapat mengambil sebuah keputusan yang memihak kepada kepentingan hidup orang banyak, dalam arti lain mengutamkan kepentingan golongan daripada pribadi, sehingga apa yang telah kita lakukan dapat menjadi contoh (suri tauladan) bagi lingkungan sekitar

Ing Madyo Mangun Karsa, artinya seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Begitupun seorang pemimpin dia harus dapat menempatkan dirinya di tengah-tengah orang yang dipimpinnya, Sehingga Dia mampu mendorong perubahan-perubahan serta memberikan semangat melalui keputusan-keputusan yang diambilnya

Tut Wuri Handayani, seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Jika dikaitkan dengan proses pengambilan keputusan maka dalam hal ini keputusan yang diambil harus mempertimbangkan moral yang dianggap baik. Sehingga ketika pengambilan keputusan tersebut sudah sesuai dengan standar moral secara tidak langsusng keputusan tersebut akan memeberikan kekuatan tersendiri  untuk mendorong semangat kerja orang-orang yang terlibat di dalamnya

2.       Pengaruh nilai-nilai yang tertanam dalam diri terhadap prinsip-prinsip yang diambil dalam pengambilan suatu keputusan

Sebagai seorang guru penggerak, ada nilai-nilai yang harus dimiliki yakni : berpihak pada murid, mandiri, kolaboratif, inovatif dan reflektifSemakin banyak nilai-nilai yang terkandung dalam diri seseorang maka keputusan yang akan diambil  akan semakin sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal. Sebagai contoh seorang kepala sekolah yang memiliki nilai kolaboratif, dalam pengambilan keputusan Ia akan mengutamakan kerja sama, keadilan dan saling tolong menolong. Jadi nilai-nilai yang tertanam dala diri akan Sangat mempengaruhi keterampilan pengambilan keputusan. Selanjutnya, mengingat bahwa salah satu indikator dari sebuah keputusan yang baik adalah sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal, maka sangat penting menanamkan nilai-nilai dalam diri sebelum mengambil sebuah keputusan.

 

3.      Kaitan pengambilan keputusan dengan coaching

Pengambilan keputusan sangat erat kaitannya dengan kegiatan coaching, karena pada dasarnya tujuan dari kegiatan coaching adalah untuk mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri coachee. Potensi yang dimaksud dapat berupa potensi personal dan profesional. Dalam coaching terdapat alur TIRTA yang berfungsi sebagai pedoman alur pembicaraan. Alur dalam TIRTA yang paling sesuai dengan pengambilan keputusan adalah “Rencana Aksi”. Dalam rencana aksi si coach akan menanyakan hal apa yang menjadi keputusan terkait penyelsaian maslah yang ada, dan dilanjutkan dengan penguatan pada alur tanggung jawab, yang meliputi pertanyaan dengan siapa akan bekerja sama dan kapan target penyelsainnya. Sehingga pada akhirnya si caochee menemukan keputusan-keputusan yang akan dilakukannya.  Kesmuanyaitu sudah barang tentu  sangat sesuai dengan pengambilan keputusan.

 

 

4.      Pengaruh  kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya dalam  pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika

Suasana hati memiliki peranan yang sangat penting untuk melakukan segala hal, termasuk pengambilan sebuah keputusan dimana terdapat pertentangan antara nilai kebenaran lawan nilai kebenaran (Dilema Etika). Saya sangat setuju dengan orang yang mengatakan jangan pernah mengambil sebuah keputusan ketika sedang marah. Berangkat dari kalimat tersebut, sepatutnya dalam pengambilan sebuah keputusan perlu sekali mengontrol keadaan sosial emosioanl diri kita. Buatlah diri menjadi  tenang walaupun di tengah hiruk pikunya masalah. Mungkin hal pertama yang dapat kita lakukan adalah dengan melakukan minfulness agar fokus kita lebih terarahkan pada masalah yang ada. Ketika fokus mulai terarah, lalu kondisikan suasana hati lebih relax dan tenang, yakini bahwa setiap masalah akan ada jalan keluar (solusinya). Seorang pemimpin yang baik  harus dapat mengeloloa emosinya agar dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab, sesuai dengan nilai-nilai kebijkan universal dan berpihak pada murid. Berikan waktu untuk mengidentifikasi segala permasalahan yang ada dengan suasana hati yang tenang tentunya, agar hasil keputusan pun merupakan yang terbaik pada akhirnya.

 

5.      Pembahasan studi kasus moral/etika kembali kepada nilai-nilai sebagai seorang pendidik

Dilema Etika merupakan sebuah keadaan pengambilan keputusan yang terdiri dari nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar tetapi saling bertentangan. Sedangkan Bujukan Moral merupakan  keadaan yang terdiri dari nilai benar  lawan salah. Ketika menghadapi kasus dilema etika akan ada nilai-nilai kebajikan yang mendasari tetapi saling bertentangan, seperti : kesetiaan, kebenaran, kejujuran, cinta dan kasih sayang. Sebagai seorang pendidik tentunya di dalam diri kita terdapat nilai-nilai kebajikan yang kita yakini itu baik. Untuk menyelesaikan pengambilan keputusan dilema etika seorang pendidik dapat menerapkan 9 langkah pengambilan/pengujian keputusan. Salah satu tahapnya yang paling berhubungan dengan nilai seorang pendidik adalah uji regulasi. Pada uji ini kita akan diminta untuk memepertimbangkan keputusan yang diamabil dan mengaitkannya dengan nilai-nilai kode etik seorang guru.

6.      Dampak Pengambilan keputusan yang tepat terhadap terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

 

Keputusan yang diambil secara tepat sudah barang tentu akan mempengaruhi atau berdampak pada lingkungan yang kondusif, positif, aman dan nyaman. Hal tersebut karena keputusan tersebut membawa perubahan yang dirasa baik untuk komunitas terkait. Adapaun cara-cara yang tepat dalam menghasilkan keputusan yang tepat adalah dengan menerapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang dimulai dari : 1) mengenali nilai-nilai yang bertentangan, 2) menentukan siapa yang terlibat, 3) fakta-fakta relevan, 4) Uji Benar/salah (Uji legal, Uji regulasi, Uji Intuisi, Uji Publikasi dan Uji Idola), 5) Uji paradigma benar lawan benar, 6)Melakukan 3 prinsip resolusi, 7) Investigasi opsi Trilemma, 8) Buat keputusan, dan 9) Lihat lagi keputusan dan refleksikan.

 

7.      Tantangan pengambilan keputusan

Dalam pengambilan sebuah keputusan tentu terdapat tantangan yang dihadapi, seperti :

1.      Melibatkan atasan

2.      Perbedaan sudut pandang dengan pihak-pihak terkait

3.      Nilai atau budaya daerah setempat

Tantangan-tantangan di atas berkaitan dengan paradigma yang ada di lingkungan sekitar, seperti : 1) Individu lawan kelompok (individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

8.      Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil  dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid

Hendaknya sebagai seorang pemimpin pembelajaran ketika mengambil sebuah keputusan salah satunya haruslah berpihak pada murid, karena ketika guru sudah berpihak pada murid maka segala kebutuhan belajar murid akan terpenuhi. Keputusan yang tepat untuk memerdekakan dan memenuhi kebutuhan murid adalah dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang dirancang untuk memenuhi segala kebutuhan belajar murid yang memiliki potensi berbeda-beda.

 

9.      Keputusan seorang pemimpin pembelajaran terhadap masa depan murid


Segala keputusan yang dilakukan oleh guru hendaknya berpihak pada murid, termasuk memikirkan jangka panjang dan jangka pendek dari keputusan yang diambil. Guru dapat mengesampingkan jangka pendek demi jangka panjang bagi murid-muridnya kelak. Contohnya guru dapat saja menaikkan sedikit nilai raport murid-muridnya agar dapat diterima di universitas terbaik, jika menurutnya itu sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal

 

10.  Kesimpulan modul 3.1 dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya

Kesimpulan yang dapat saya tarik dalam modul 3.1 ini adalah Dilema etika (benar vs benar) adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan. Sedangkan bujukan moral (benar vs salah) yaitu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar dan salah. Untuk menentukan sebuah kasus/situasi termasuk ke dalam dilema etika atau bujukan moral, kita harus memahami terlebih dahulu empat paradigma dilema etika, Kemudian memahami 3 prinsip pengambilan keputusan dan melakukan  9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Jika telah melewati itu semua maka keputusan yang diambil perlu dilihat ulang apakah sudah berpihak pada murid, dapat dipertanggungjawabkan dan mengandung nilai-nilai kebajikan.

Keterkaitan modul ini dengan modul 1 adalah bahwa pengambilan keputusan yang tepat akan selalu berpihak pada murid seperti yang dijelaskan dalam modul 1.1 Filosofis pendidikan KHD. Dalam Modul 2 Pengambilan keputusan juga berdasrakan pada nilai-nilai kebajikan universal dan nilai serta peran dari guru penggerak. Kemudain keputusan yang tepat untuk memerdekakan murid dalam belajar juga dapat dikaitkan dengan Pemeblajaran berdiferensiasi yang terintegrasi dengan Pembelajaran Sosial Emosional. Jadi secara keseluruhan anatar modul 1 dengan lainnya memiliki hubungan keterkaitan yang sangat erat untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik lagi

  

11.  Pemahaman konsep-konsep dalam modul 3.1

Dilema Etika merupakan sebuah keadaan pengambilan keputusan yang terdiri dari nilai-nilai kebajikan universal yang sama-sama benar tetapi saling bertentangan. Sedangkan Bujukan Moral merupakan  keadaan yang terdiri dari nilai benar  lawan salah. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: 1. Individu lawan kelompok (individual vs community) 2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy) 3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty) 4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Kidder, 2009, hal 144) menjelaskan ada tiga prinsip pengambilan keputusan, yaitu:

Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

9 langkah pengambilan/pengujian keputusan dimulai dari : 1) mengenali nilai-nilai yang bertentangan, 2) menentukan siapa yang terlibat, 3) fakta-fakta relevan, 4) Uji Benar/salah (Uji legal, Uji regulasi, Uji Intuisi, Uji Publikasi), 5) Uji paradigma benar lawan benar, 6)Melakukan 3 prinsip resolusi, 7) Investigasi opsi Trilemma, 8) Buat keputusan, dan 9) Lihat lagi keputusan dan refleksikan. Cara mereka mengukur efektivitas dari pengambilan keputusan tersebut melalui pengujian benar atau salah yang terdiri dari : (Uji legal, Uji regulasi, Uji Intuisi, Uji Publikasi dan Uji Idola),. Selain itu mereka juga akan mereflkesikan serta meilhat kembali keputusan yang telah dilakukan tentunya dengan berkolaborasi denagn pihak-pihak terkait.

Hal-hal di luar dugaan :

Kasus dilema etika akan melalui pengujian 9 tahap, apabila gagal di salah satu uji saja maka kasus tersebut termasuk dalam bujukan moral

Setiap keputusan orang akan berbeda tergantung sudut pandang masing-masing dan tergantung nilai dan moral yang berlaku di daerah tersebut

 

 

12.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajarai modul ini saya pernah mengambil keputusan dilema etika, hanya saja proses dalam pengambilan keputusan tersebut hanya mengandalkan nilai-nilai dalam diri yang saya yakini itu benar tanpa menetapkan paradigma, prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Tetapi setelah mempelajari modul ini saya semakin paham bahwa pengambilan keputusan dilema etika tidak semudah yang saya pikirkan sebelmunya, kita harus menentukan paradigma, prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

13.  Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Dampak mempelajari konsep ini buat saya adalah saya lebih menyadari bahwa pengambilan keputusan bukanlah sesuatu yang mudah terlebih jika itu adalah dilema etika, perlu menerapkan 9 langkah pengujian/pengambilan keputusan.  Kemudian melalui modul ini saya menjadi paham perbedaan dilema etika dan bujukan moral. Sehingga jika  kasusnya merupakan bujukan moral maka saya akan memilih keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan dalam diri saya.

14.  Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

 Modul ini sangat penting bagi diri saya pribadi yaitu untuk meningkatkan skill saya dalam mengambil keputusan baik itu yang menyangkut urusan pribadi maupun urusan di sekolah. Saya juga dapat membantu menyelesaikan pengambilan keputusan oleh rekan sejawat yang membutuhkan. Kemudian,  Sebagai seorang pemimpin yang hari-harinya kan dihadapkan dengan banyak masalah tentunya modul ini merupakan modul yang harus dipelajari dan  tidak boleh dilewatkan, karena di dalamnya banyak konsep-konsep yang telah didesain dengan baik agar mudah dipahami dalam pengambilan keputusan. Seca umum modul ini memiliki banyak manfaat baik untuk pribadi maupun bagi seorang pemimpin.


Terima Kasih, Salam & Bahagia...

 

 

 

Selasa, 17 Januari 2023

 

AKSI NYATA MODUL 1.4 (BUDAYA POSITIF)

Oleh : Aliandi Purba, S.Pd.,Gr.

CGP Angk. 7 Serdang Bedagai

 

 

1.      Mengimplementasikan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif.

2.      Membagikan pemahaman dan pengalaman Budaya Positif kepada rekan pengajar

melalui group sharing/seminar.

 

A.      Latar Belakang

Budaya positif merupakan perwujudan nilai-nilai, keyakinan-keyakinan dan kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak kepada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat dan bertanggung jawab.  Menciptakan Budaya positif di lingkungan sekolah sangat penting, karena melalui budaya  positif banyak sekali kebaikan yang  didapat. Dari situ jugalah muncul nilai-nilai kebajikan universal yang diperlukan dalam kehidupan. Salah satu penerapan disiplin positif yang perlu dilakukan yaitu pembuatan keaykinan kelas yang melibatkan seluruh siswa-siswi di kelas. Tujuan dari adanya pembuatan keyakinan kelas agar peserta didik memiliki pedoman berupa nilai-nilai kebjikan universal dalm bertingkahlaku selama di kelas/sekolah, sehingga pada akhirnya dapat menjadi budaya positif. Setelah itu sebagi bentuk pengimbasan dari penerapan Budaya positif, hal yang sangat perlu dilakukan adalah mennyebarkan pemahaman Budaya Positif kepada rekan-rekan pengajar lainnya. Kegiatan ini juga merupakan salah satu bentuk kolaborasi dengan tujuan agar dapat secara serentak mencipatkan Budaya Positif di sekolah. Karena sejatinya untuk menciptakan budaya positif sangat diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.  Sehingga, sangat perlu untuk melakukan aksi nyata sebagaimana yang tertulis di atas.

 

B.      Tujuan

Melalui Rancangan tindakan ini diharapkan dapat :

1.      Memberi Dampak positif kepada siswa untuk dapat membudayakan hal-hal positif di lingkungan sekolah/kelas yang mengandung nilai-nilai kebajikan universal, seperti: Kemandirian, Bertanggung Jawab, Sopan santun, Mengharagai, Tolong Menolong serta Kontrol Diri, dll.

2.      Menumbuhkan Motivasi intrinsik siswa untuk terus melakukan nilai-nilai kebajikan

3.      Menebarkan pemahaman budaya positif kepada rekan guru lain

4.      Menumbuhkan Budaya Positif di kelas maupun sekolah

 

C.      Tolok ukur

Bukti yang selanjutnya dapat dijadikan tolok ukur dalam tindakan ini akan dapat diperoleh melalui observasi (*pengamatan) terkait perilaku/kebiasaan yang dilakukan siswa di sekolah/kelas, contohnya sebagai berikut:

1.      80% dari jumlah siswa datang ke sekolah tepat waktu

2.      Seluruh siswa membuang sampah di tempat sampah yang telah disediakan

3.      Seluruh siswa akan saling membantu dalam kebaikan

4.      Terwujudnya Susana sekolah yang aman dan nyaman untuk belajar

 

 

 

 

D.     Linimasa Tindakan yang dilakukan

1.      Persiapan

-          Berkoordinasi dengan Kepala Sekolah terkait tindakan aksi nyata yang akan dilakukan

-          Mengondisikan murid untuk mengonsep pembuatan keyakinan kelas

-          Mengundang peserta rekan guru lainnya untuk melakukan seminar

-          Menentukan/menyusun materi budaya positif yang akan dibawakan

-          Mempersiapkan Tempat kegiatan

2.      Pelaksanaan

-          Memfasilitasi siswa dalam pembuatan keyakinan kelas

-          Keyakinan kelas yang telah disepakati ditempel di dinding agar semua murid dapat selalu melihatnya

-          Memantau penerapan keyakinan kelas dengan membuat catatan bagi murid yang melakukan pelanggaran

-          Mengadakan sosialisai/presentasi tentang budaya positif di sekolah kepada guru-guru di dalam lingkungan kerja

-          Berkolaborasi dengan rekan guru untuk membuat budaya positif di sekolah

3.      Penutup

-Melakukan refleksi terhadap kegiatan aksi nyata yang dilakukan

 

E.      Dukungan yang dibutuhkan

Untuk dapat mencapai keberhasilan dari tindakan aksi nyata ini, diperlukan dukungan :

1. Sarana dan Prasarana

-Proyektor

-Soundsystem

-Tempat pelaksanaan

-Sticky Notes

2. Kerjasama pihak terkait

-Kepala sekolah,

-Guru sebagai rekan sejawat,

-Orang tua siswa dan

-Peserta didik.

F. Hasil Aksi Nyata

 Hasil Pelaksanaan tindakan nyata budaya positif yang telah dilakukan yaitu:

1.      Terbentuknya keyakinan kelas yang dibuat dan disepakati oleh guru dan murid

2.      Adanya poster keyakinan/kesepakatan kelas yang terpasang di dinding kelas

3.      Terciptanya lingkungan kelas yang kondusif dan damai

4.      Tumbuhnya motivasi intrinsik dalam diri siswa  melakukan nilai-nilai kebajikan universal

5.      Kolaborasi dengan rekan guru untuk menyebarkan pemahaman Budaya Positif

6.      Rekan guru memiliki pemahaman tentang penerapan Budaya positif

 

 

 

 

G. Refleksi

1. Kegiatan aksi nyata ini memumculkan motivasi intrinsik siswa dalam menjalankan nilai-nilai kebajikan universal

2. Membutuhkan proses yang berkelanjutan

3. Kolaborasi antar rekan guru terjalin dalam menerapkan Budaya positif

 


Dokumentasi Kegiatan aksi Nyata


1. Pembuatan Keyakinan Kelas                        













2. Penyebaran pemahaman Budaya Positif melalui Group Sharing






















KONEKSI ANTAR MATERI 3.2

1.       Kesimpulan ‘Pemimpin Pembelajaran dalam Pengelolaan Sumber Daya’ dan pengimplementasiannya di dalam kelas sekolah, dan masyarakat s...